Senin, 05 Oktober 2009

PERBEDAAN PSIKOANALISA SIGMUND FREUD DAN ERIK ERIKSON

PSIKOANALISA SIGMUND FREUD

Sigmund Freud (1856-1938), mengembangkan suatu teori perilaku dan pikiran yang mengatakan bahwa kebanyakan apa yang kita lakukan dan pikirkan merupakan hasil dari keinginan atau dorongan yang mencari pemunculan dalam perilaku dan pikiran. Garisbawahi bahwa “mereka (keinginan/ dorongan) tersebut tersembunyi dari kesadaran individual, dengan kata lain, mereka tidak disadari. Ini adalah ekspresi dari dorongan tidak sadar yang muncul dalam perilaku dan pikiran. Pandangan Freud secara lengkap adalah sebagai berikut:

1. Kesadaran dan Ketidaksadaran
Freud berpendapat bahwa kehidupan psikis terdiri dari kesadaran (the conscious) dan ketidak-sadaran (the unconscious). Kesadaran diibaratkan sebagai permukaan gunung es yang tampak. Jadi kesadaran merupakan bagaian kecil dari kepribadian. Ketidak-sadaran yang merupakan bagian kecil dari gunung es di bawah permukaan air mengandung insting-insting yang mendorong perilaku manusia. Menurut Freud ada bagian lain yang disebut pra-sadar (preconscious). Dalam preconscious stimulus-stimulus belum di refresh, sehingga dapat dengan mudah ditimbulkan kembali dalam kesadaran.


Menurut Freud kepribadian terdiri dari :

a. ID : bagian primitif dari kepribadian. Mengandung insting seksual dan insting

agresif.

b. EGO : merupakan prinsip realitas. Ego menyesuaikan diri dengan realitas.

c. SUPER EGO : merupakan prinsip moral, yaitu mengontrol perilaku dari segi moral.

2. Insting dan Kecemasan
Freud menyatakan insting terdiri dari:

a. Insting untuk hidup (Life Instinct) : mencakup lapar, haus, dan seks. Ini merupakan kekuatan kreatif dan disebut sebagai Libido.

b. Insting untuk mati (Death Instinct) : merupakan kekuatan destruktif. Hal ini dapat dilakukan terhadap diri sendiri seperti menyakiti diri atau melakukan bunuh diri. Atau ditujukan terhadap individu lain dalam bentuk agresi. Semua itu dilakukan oleh si individu karena adanya dorongan berupa Kecemasan


Menurut Freud ada tiga macam Kecemasan, yaitu :
1. Kecemasan Objektif : timbul terhadap ketakutan akan bahaya nyata.
2. Kecemasan Neurotik : merupakan kecemasan atau rasa takut akan mendapatkan hukuman atas keinginan yang impulsif

3. Kecemasan Moral : cemas karena merasa telah melanggar norma-norma moral.



Freud juga mengatakan bahwa setiap individu mengalami fase-fase seksualitas sejak masih kanak-kanak sampai dewasa, berikut penjelasannya :

a. Fase Oral (mulut) : misalnya, perbuatan anak bayi menyusu kepada ibunya.

b. Fase Anal (anus) : misalnya, toilet training.

c. Fase Falik (usia 6-7 tahun) : kepuasan seksual pada alat kelamin.

d. Fase Laten (usia 7-8 tahun sampai menginjak awal remaja) : seolah-olah tidak ada aktivitas seksual.

e. Fase Genital : dimulai saat remaja sampai mati, segala kepuasan seks berpusat pada alat kelamin.



PSIKOANALISA ERIK ERIKSON


Erik H. Erikson (1902-1994) psikoanalis kelahiran Jerman yang merupakan seorang rekan di lingkar dalam Freud, memodifikasi dan memperluas teori Freud dengan menekankan pengaruh masyarakat terhadap perkembangan kepribadian.


Teori perkembangan Psikososial Erikson mencakup 8 tahap sepanjang rentang kehidupan, yaitu :

1. Kepercayaan vs Ketidakpercayaan (sejak lahir hingga usia 12-18 bulan) : bayi mengembangkan perasaan bahwa dunia merupakan tempat yang baik dan aman.

2. Autonomi vs Rasa Malu dan Ragu (usia 12-18 bulan hingga 3 tahun) : anak mengembangkan keseimbangan independen dan kepuasan diri terhadap rasa malu dan keraguan.

3. Inisiatif vs Rasa Bersalah (usia 3-6 tahun) : anak mengembangkan inisiatif ketika mencoba aktivitas baru dan tidak terlalu terbebani oleh rasa bersalah.

4. Industry vs Inferioritas (usia 6 tahun hingga Pubertas) : anak harus belajar keterampilan budaya atau menghadapi perasaan tidak kompeten.

5. Identitas vs Kekacauan Identitas (pubertas hingga dewasa awal) : remaja harus menentukan pemahaman akan diri sendiri atau merasakan kekacauan peran.

6. Intimasi vs Isolasi (dewasa awal) : individu mencoba mebuat komitmen dengan orang lain; apabila gagal, maka ia akan menderita isolasi dan pemisahan diri.

7. Produktivitas vs Stagnasi (dewasa tengah) : perhatian orang dewasa yang sudah matang adalah membangun dan membimbing generasi selanjutnya atau merasa tidak percaya diri.

8. Integritas Ego vs Putus Asa (dewasa akhir) : individu yang tua mendapatkan penerimaan terhadap hidup, membuatnya dapat menerima kematian atau sebaliknya, putus asa atas ketidakmampuannya menghidupkan kembali hidupnya.

KESIMPULAN


Pada dasarnya kedua teori Psikoanalisa yang diungkapkan oleh Freud dan Erikson tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama meng-klasifikasikan fase-fase Psikologi seorang individu berdasarkan usia, sejak saat dilahirkan hingga meninggal nantinya. Hanya saja, Freud berpendapat bahwa dari semua fase Psikologis yang dialami manusia, merupakan murni karena dorongan/ keinginan yang luar biasa dari dalam (internal) individu tersebut, baik secara sadar maupun tidak sadar (bawah sadar). Kemudian seperti yang kita ketahui, Erik H. Erikson berusaha menyempurnakan teori Psikoanalisa yang telah dikemukakan oleh Freud dengan menambahkan bahwa selain keinginan/ dorongan dari dalam diri si individu, fase-fase psikologis tersebut ternyata juga dipengaruhi oleh faktor-faktor luar (eksternal), seperti adat, budaya dan lingkungan tempat tinggal si individu dan kepribadian dibangun melalui serangkaian krisis-krisis dan alternatif-alternatif.

Saya melihat Erikson berusaha menjelaskan bahwa ada faktor-faktor eksternal juga memiliki andil dalam membentuk perilaku suatu individu, bukan hanya karena adanya keinginan/ dorongan yang sangat kuat dari dalam diri. Berdasar argumentasi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan sesamanya (interdependence), menurut saya disinilah perbedaan pandangan antara Freud dan Erikson tentang Psikoanalisa.

Sumber :

- Human Development (Psikologi Pekembangan); Diane E. Papalia, Sally Wendkos Old, Ruth Duskin Feldman

- Psikologi Umum I : Universitas Gunadarma

- Psikologi Umum : universitas Gunadarma

- Psikologi Perkembangan : Dra, Enung Fatimah, M.M – Pustaka Setia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar